Kontroversi Peraturan wajib menggunakan Helm berlabel “SNI”

Peraturan Pemerintah tentang keharusan bagi pengendara sepeda motor untuk mengenakan helm berlabel “SNI” dengan dalih mendukung program Kementrian Perindustrian dan Perdagangan RI, menurut hemat kami ini langkah yang sangat bagus. Sebab kebijakan seperti ini di negara lain sudah sejak lama dikenakan. Misalnya di Jerman, pemerintah melarang impor produk otomotif dari negara lain. Hal ini bertujuan untuk mendongkrak devisa dalam negeri.

Segala program yang digalakan oleh pemerintah terlebih dahulu harus disiapkan dulu infrastruktur dan instrumen pendukungnya. Hal ini berhubungan erat dengan materi tulisan saya yang berjudul “Motif di balik Maraknya Praktik Pemalsuan di Indonesia” di situs http://pangandaraninfo.com. Dalam tulisan itu diangkat sebuah tema tentang betapa mudahnya praktik pemalsuan yang dilakukan orang-orang yang tidak bertanggungjawab terhadap barang-barang produk orang lain atau dokumen negara, termasuk pemalsuan mata uang.

Label halal, misalnya secara kelembagaan dimiliki oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Jika memperhatikan bentuk label yang digunakan tentu akan sangat mudah dipalsukan oleh tangan-tangan iseng. Demikian pula, yang menjadi kekhawatiran kami dalam hal ini berhubungan dengan label “SNI” yang harus ditempelkan di helm. Sebab memperhatikan dari maraknya praktik pemalsuan yang terjadi di negara kita, sangat tidak menutup kemungkinan akan timbul pula tangan-tangan usil yang membuat stiker atau label cetak apapun yang ikut-ikutan menempel di salah satu produk helm yang justru bentuk dan struktur keautentikkannya yang tidak memenuhi standar.

Masayarakat dikorbankan

Pada prinsipnya mayoritas masyarakat kita pada saat ini sedang dalam kondisi sangat respon terhadap segala program pemerintah. Terlebih jika program tersebut berfokus pada arah perbaikan yang memperjuangan kemakmuran dan keadilan. Hanya saja kepercayaan ini akan sirna begitu saja pada saat niat baik masyasrakat untuk menunjukkan sikap setianya pada pemerintah, ternyata mentah di tengah jalan. Alasannya, disebabkan oleh adanya upaya orang-orang jahat yang memperkeruh keadaan yang berimbas pada kerugian masyarakat banyak.

Kasus nyata sering terjadi di masyarakat, misalnya ada salah seorang debitur di salah satu bank yang bermaksud untuk membayar cicilan utangnya. Tanpa disadari uang yang ia dapatkan ternyata uang palsu. Uang tersebut oleh pihak bank jelas tidak titerima, sementara si penyetor tersebut dilaporkan ke polisi dengan tuduhan pengedar uang palsu. Apa yang meresap dalam nurani kita ketika kita menyaksikan seseorang yang mengalami nasib seperti ini ? Kecelakaan dobel. Karena sudah dirugikan dengan uang palsunya, ditambah harus berurusan dengan kepolisian.

Untuk mencegah hal serupa dengan diberlakukannya label “SNI” bagi produk helm yang wajib dikenakan bagi para pengendara sepeda motor, maka dalam hal ini pemerintah sangat perlu untuk melakukan sosialisasi secara besar-besaran kepada masyarakat luas tentang jenis, bentuk, dan spesifikasi helm yang sudah memenuhi standar.

Tag: ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: