“Cijulang Ngadeg Sorangan”; jangan sekedar Slogan.

Harapan sebagian besar masyarakat Cijulang adalah murah sandang, pangan, papan. Toto tentrem kerto raharjo, sepi paling towong rampog. Jika sampai pada tingkatan makmur mungkin seperti fatamorgana, hanya tampak indah dari kejauhan. Materi bukanlah ukuran kemakmuran suatu negeri, akan tetapi sebagai alat menuju kemakmuran. Biar harga-harga kebutuhan sehari-hari terasa semakin melambung, yang penting terjangkau dengan daya beli. Ketika seorang warga nyeloteh, “Sayah mah tidak kepingin kaya lah, yang penting berkecukupan. Segala barang atau jasa saat dibutuhkan dapat terbeli.” Warga yang lain menempas, “Ya itu memang yang diharapkan semua orang.”

Kondisi daerah Cijulang Kab. Ciamis saat ini hingga pertengahan tahun 2010, dilihat dari sektor ketersediaan infrastruktur bidang-bidang yang urgensinya sangat vital dan mendesak boleh dikatakan masih stagnan/mandek. Kabuthan mendesak bidang-bidang yang dirasakan belum terpenuhi antara lain:

1.  Angka pengangguran tinggi

Jenis pengangguran yang paling banyak ditemukan di daerah Cijulang adalah pengangguran musiman, pengangguran friksional, pengangguran struktural, dan pengangguran teknologi.

Pengangguran musiman banyak menimpa para petani yang menggarap lahan pertanian dengan sistem pengairan tadah hujan. Meskipun di daerah Cijulang ini sudah ada proyek irigasi Merjan Desa Kertayasa Kec. Cijulang. Namun pasokan air dari irigasi ini hanya menjangkau 30% lahan persawahan di wilayah Cijulang dan sekitarnya. Oleh sebab itu para petani di wilayah ini hanya akan aktif bekerja semala dua musim dalam setahun. Setiap satu musim dibutuhan interval waktu sekitar 100 hari atau 3,5 bulan. Dari 100 hari tersebut hari kerja efektif para petani ini rata-rata hanya satu bulan saja. Jadi, jika dalam setahun dilakukan dua kali masa tanam artinya dihitung per semester. Setiap satu semester/6 bulan para petani ini memiliki hari kerja efektif hanya satu bulan saja. Maka selama lima bulan para petani di wilayah ini menjadi pengangguran.

Namun demikian, tentu jika mereka disebut pengangguran pasti tidak terima. Sebab di sela-sela aktivitas mereka dengan profesi bertani, rata-rata dari penduduk Cijulang memiliki pekerjaan sampingan, yaitu beternak hewan peliharaan, berkebun palawija, perikanan air tawar, berdagang, dan sebagainya. Tetapi dari pekerjaan sampingan tersebut belum mampu mendongkrak pendapatan perkepita masyarakat. Sementara kebutuhan hidup semakin hari semakin bergerak naik, mobilitas perekonomian semakin kencang, tuntutan konsumsi semakin tidak terjangkau.

Kita bisa menghitung secara matematis logis, pada saat masyarakat petani Cijulang menginginkan sebuah barang yang harganya di atas puluhan juta rupiah, maka mereka harus menunggu minimal lima tahun. Upaya yang mereka lakukan adalah dengan menanam kayu albasiah/albiso atau beternak sapi. Belum lagi jika berkeinginan membangun sebuah rumah permanen, maka dibutuhkan waktu minimal 10 tahun.

Hasil pertanian tanaman padi, meskipun pada lahan sawah irigasi belum dapat diandalkan sebagai komoditas utama yang mampu menjawab tuntutan profesi. Sebab, harga gabah yang berlaku di pasaran jika dihitung-hitung antara pendapatan dikurangi biaya operasional dan lain-lain, dalam hal ini petani masih dirugikan.

Pengangguran friksional, meskipun pengangguran ini bersifat sementara akan tetapi istilah sementara itu termasuk sesuatau yang nisbi, tidak bisa diukur. Maka istilah sementara itu kalau di Cijulang masyarakat membuat istilah plesetan menjadi “sementerus”, sebab hal ini memang realitis. Daerah Cijulang termasuk daerah yang berpenduduk dengan tingkat pendidikan tinggi. Rata-rata untuk setiap KK terlahir lulusan-lulusan perguruan tinggi hingga bergelar sarjana. Dari potensi ini tentu beragam disiplin ilmu dan keterampilan yang mereka miliki. Namun demikian ketersediaan lapangan kerja di daerah ini sangat minim. Akirnya, tidak sedikit dari sarjana-sarjana ini yang terpaksa memilih profesi yang bertolak belakang sama sekali dengan disiplin ilmunya.

Pengangguran struktural, disebabkan oleh perubahan di dalam struktur ekonomi yang berasal dari faktor tertentu seperti perubahan teknologi atau relokasi industri atau oleh perubahan dalam komposisi angkatan kerja. Terkadang ada proyek yang membutuhkan tenaga-tenaga profesiaonal, sifatnya hanya insidental. Seperti proyek Pemilu, sensus penduduk, penanganan bencana, dan sebagainya. Akhirnya pada saat proyek tersebut berakhir, maka para profesional muda ini kembali menganggur.

Pengangguran teknologi, dapat terjadi ketika mesin menggantikan manusia. Contohnya, pada pembangunan jalan raya. Mesin-mesin berat dapat digunakan untuk memudahkan pekerjaan pembuatan jalan raya. Penggunaan mesin berat akan mengurangi tenaga manusia yang di perlukan dalam kegiatan membangun jalan raya.

2.  Sarana transportasi darat 75% rusak parah

Hanya jalur-jalur wisata yang barangkali hingga pertengahan tahun 2010, prasana jalan di wilayah Cijulang dan sekitarnya yang mendapat sedikit perbaikan. Sementara jalur-jalur lain penghubung antar desa hingga pelosok-pelosok dusun kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal, jika ditinjau dari azas manfaat bagi orang banyak maka justru jalan-jalan tembus inilah yang harus mendapatkan skala prioritas.

3.  Sarana kesehatan belum memadai

Ketika pada bulan Februari 2010 wilayah Ciamis Selatan terserang wabah muntaber dan cikungunya, maka fasien-fasien yang memerlukan penanganan khusus terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit umum (RSU) terdekat. Yang dimaksud dengan RSU terdekat dari wilayah Cijulang ini alternatifnya ada tiga, yaitu RSUD Kota Banjar berjarak 94 km, RSUD Ciamis berjarak 112 km, dan RSUD Purwokerto berjarak 187 km.

Tenaga dokter yang ditugaskan di puskesmas-puskesmas kecamatan terkadang sering tidak ada di tempat, dengan alasan yang paling sering adalah pulang kampung. Sementara pengobatan-pengobatan praktek dokter non rumah sakit masih sangat sedikit. Ditambah kendala lain yaitu minimnya sarana apotek dan bank darah PMI.

4.  Sarana pendidikan belum optimal

Jika jenjang pendidikan dasar hingga tingkat menengah untuk wilayah Cijulang dipandang sudah cukup tersedia, meskipun ketersediaan sarana pendidikan dirasakan masih sangat minim, misalnya ketersediaan laboratorium untuk berbagai bidang mata pelajaran, toko-toko buku, perpustakaan, dan kebutuhan alat belajar lainnya.

Kebutuhan pendidikan yang lebih mendesak bagi putra-putri warga masyarakat Cijulang adalah jenjang pendidikan tinggi yang berdiri sendiri. Sebab perguruan tinggi yang ada beberapa waktu lalu adalah perguruan tinggi ekstension/kelas jauh. Kendala dari perguruan tinggi kelas jauh ini adalah kesanggupan tenaga pendidik untuk hadir setiap kegiatan perkuliahan. Sementara itu kegiatan perkuliahan yang diambilpun bukan kegiatan perkuliahan reguler, melainkan perkuliahan karyawan dengan pola pemadatan hingga “instant”.

Sulitnya memasarkan barang-barang komoditas pertanian dengan harga setabil dan wajar

Komoditas pertanian yang menjadi andalan penduduk Cijulang adalah kelapa non-hibrida. Produksi buah kelapa yang dihasilkan rata-rata penduduk dalam setiap bulan adalah 100 – 200 butir. Jika jumlah KK di Kecamatan Cijulang berjumlah 40.000 KK x 150 butir = 6.000.000 butir kelapa per bulan. Jika harga buah kelapa dipatok pada Rp 2.000,- maka komoditas ini berpotensi tinggi akan mendongkrak ekonomi warga Cijulang, yakni dengan sirkulasi uang Rp 12 milyar per bulan. Namun kenyataannya harga buah kelapa biasanya dipatok rata-rata pada harga Rp 500,- dengan harga ini petani biasanya tidak kebagian hasil, karena ongkos manjat pohon kelapa rata-rata Rp 2.000,- per batang. Maka ketika pohon tersebut berbuah 4 butir, maka cukup hanya ongkos operasional. (http://pangandaraninfo.com)

Refleksi

Pada saat para tokoh Cijulang begitu seringnya menyebut-nyebut tentang sebuah ramalan tentang kemajuan Cijulang dalam bentuk sastra kuno, “Cijulang Ngadeg Sorangan” atau bisa di-Indonesia-kan dengan “Cijulang Berdiri Sendiri”, maka kita sebagai orang Cijulang sangat mendambakan kejadian itu. Percaya atau tidak tentang ramalan itu, yang pasti segala sesuatu itu harus berangkat dari jalan syari’at/kenyataan. Cijulang tidak butuh Bandara, jika tidak berdampak pada kebangkitan kehidupan dan penghidupan penduduknya. Cijulang tidak butuh Pelabuhan, jika tidak memberikan kontribusi bagi kehidupan dan penghidupan penduduknya. Karena yang dibutuhkan Cijulang adalah hari ini.

    Tinggalkan Balasan

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

    Foto Google+

    You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

    Connecting to %s

    %d blogger menyukai ini: