Efektifitas Masa Orientasi Siswa (MOS)

Memasuki tahun ajaran baru di setiap sekolah biasanya pada minggu-minggu pertama itu diisi dengan kegiatan Masa Orientasi Siswa atau apapun istilahnya. Basis garapan kegiatan ini adalah para siswa baru yang dianggap perlu diadaptasikan perilakunya dengan suasana dan lingkungan belajar baru. Bagi masyarakat di pedesaan mungkin sangat mudah untuk mengambil ibarat atau perumpamaan, yaitu ibarat ayam kampung yang baru diterima dari orang lain yang hendak dipelihara di lingkungan yang baru. Biasanya ayam tersebut harus di-‘orientasi’ terlebih dahulu, dengan tujuan agar ayam tersebut pada saat dilepas dari kandang, ia bisa kembali lagi ke kandang dengan sendirinya di saat senja telah tiba. Masa orientasi ayam kampung tersebut umumnya dikurung dalam kandang selama tiga kali 24 jam.

Apakah MOS yang dilaksanakan di beberapa sekolah itu asumsinya sama dengan gambaran di atas? Apa standar kurikulum yang digunakan pada acara MOS? Bagaimana cara mengukur tingkat keberhasilan kegiatan MOS itu?

Kegiatan MOS tidak boleh dilaksanakan dengan tanpa landasan dan tujuan yang jelas. Setiap kegiatan sekolah yang diawali dari hari H tahun pelajaran baru sudah masuk pada hitungan hari efektif kalender pendidikan. Bukan berarti hanya sekadar melaksanakan rutinisme kegiatan awal masuk sekolah. Akan tetapi tidak ada salahnya jika minggu-minggu pertama masuk sekolah itu jika diprogram secara profesional, terstruktur, dan terarah.

MOS bukan perpeloncoan

Pihak sekolah secara otomatis memiliki tanggung jawab penuh pada jam-jam sekolah ketika para orang tua/wali secara resmi mendaftarkan putra-putrinya ke sekolah-sekolah yang menjadi pilihannya. Para siswa itu adalah amanat, komponen sekolah dan siapa saja personel yang terlibat di dalamnya adalah pihak yang diberi amanat.

Di samping itu, para siswa baru itu ibarat tamu yang dalam ajaran agama manapun bahwa tamu itu adalah setiap orang yang harus dihormati dan dimuliakan. Maka adalah naif jika seorang tuan rumah memperlakukan kasar, menguji, mempermalukan, dan memelonco tamunya sendiri. Adapun misalnya ada femeo yang mengatakan bahwa di sekolah itu dipisahkan dengan tingkatan kelas, sehingga ada istilah senioritas. Di mana mereka yang kini merasa dirinya lebih senior, secara notabene pernah diperlakukan kasar oleh para pendahulunya. Maka hal ini janganlah dijadikan sebagai budaya atau tradisi. Toh, tidak ada salahnya ketika setiap kita meninggalkan tradisi primitif dan berpindah kepada tradisi maju. Bukankah zaman nenek moyang kita dulu masih memiliki kepercayaan dinamisme dan animisme? Masihkah kita mau mempertahankan tradisi menggosok-gosokan dua bilah batu ketika hendak mendapatkan api? Atau kita tetap mempercayai alunan burung hantu di malam hari itu menjadi penyebab hamil?

Jika pelaksanaan MOS itu dipandang sudah tidak efektif, maka kita patut memohon kepada dinas dan instansi terkait agar sudilah kiranya meninjau kembali tentang tata aturan MOS yang sekiranya lebih profesional, mendidik, dan berfaedah. Kita tidak lagi ingin menyaksikan atau mendengar adanya berita tentang kematian seorang taruna calon yang disebabkan oleh ganasnya perlakuan para seniornya saat mengikuti MOS.

Tag: , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: